Pengembangan SDM Indonesia di Era Industri 4.0

Resume Stadium General

Pengembangan SDM Indonesia di Era Industri 4.0

Ir. Khairil Anwar, M.M.

Sekretariat Jenderal

Kementerian Ketenagakerjaan RI

Jakarta

Jum’at 20 September 2019

 

A. Kondisi Ketenagakerjaan Nasional (Februari) Tahun

Kerja (136,18 juta orang)

Bukan angkatan kerja (60,28 juta orang)

Bekerja (129,36 juta orang)

Penganggur (6,82 juta orang)

 

B. Profil Angkatan Kerja Muda Indonesia Tahun 2019

Jumlah angkatan kerja muda Indonesia sebesar 21.535.285 orang atau 15,81% dari total angkatan kerja Indonesia sebesar 136.183.032 orang.

16,20% (12,05 juta orang) angkatan kerja muda Indonesia berada di Perkotaan

59,34% (12,77 juta orang) angkatan kerja muda Indonesia adalah laki-laki

50,15% (10,79 juta orang) angkatan kerja muda Indonesia berdasarkan tingkat Pendidikan yang ditamatkan didominasi oleh lulusan SMA dan SMK.

C. Generasi Muda dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Manfaatkan teknologi secara maksimal

Jangan pernah merasa puas

Jangan pernah berhenti berinovasi

Ciptakan hubungan yang object oriented

Jangan berlindung dibawah regulasi

Dinamika Kondisi Pasar Kerja: Mismatch Lulusan Pendidikan Tinggi (Diploma+)

World Bank, 2010

Identifikasi potensi skill mitmatch dapat meningkatkan produktivitas, daya saing, dan pertumbuhan.

  1. Skill akademik (matematika dan bahasa) namun juga thinking and behavioral skill sangat penting.
  2. ILO, 2017

Pendekatan skill Mitmatch cukup beragam

  1. Vertical Mitmatch
  2. Skill gaps
  3. Skill shortages
  4. Horizontal Mitmacth
  5. LD FEB UI,2018
  6. Analisis Mitmatch horizontal dan vertical lebih dari separuh tenaga kerja di Indonesia mengalami Mismatch
  7. Tidak ada pola Mismatch antar regional
  8. Mismatch secara signifikan mempengaruhi penghasilan
  9. Pelatihan dapat meningkatkan upah pada pekerja
  10. Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Pasar Kerja di Masa Depan

Permintaan skill di Pasar Kerja

  1. Kondisi politik
  2. Peraturan daerah
  3. Pilihan konsumen
  4. Kondisi makro ekonomi
  5. Perubahan demografi
  6. Pilihan strategi perusahaan
  7. Perubahan teknologi
  8. Kompetisi dan globalisasi

Automatisasi diperkirakan terjadi pada tahun 2030, di periode yang sama akan tercipta pekerjaan yang baru

Meskipun adanya automatisasi, permintaan pekerjaan dan tenaga kerja akan meningkat sejalan dengan ekonomi yang bertumbu, sebagian didorong oleh pertumbuhan produktivitas, kemajuan teknologi

Semakin maju sebuah negara, persentase pekerjaan yang tergantikan dengan adanya automatisasi semakin besar

Di Indonesia diperkirakan 12 persen pekerjaan yang akan tergantikan dengan adanya automatisasi

  1. Kualifikasi Pekerjaan di Masa Depan
  2. Pekerjaan dengan keterampilan tinggi

Pendidikan tinggi dengan keterampilan teknis, berkomunikasi, bekerja sama (kerja tim) dan berorganisasi.

  1. Pekerjaan dengan keterampilan rendah

Walaupun beberapa jenis pekerjaan tidak memerlukan Pendidikan yang tinggi, namun masih dibutuhkan pekerja yang bertanggungjawab, mempunyai motivasi, mau bekerja keras, berpengalaman dan sopan.

  1. Keterampilan umum

Mau mengadopsi keterampilan baru, tahan banting, melek digital, mempunyai cara berfikir kritis membangun, kreatif, terampil dalam menyelesaikan masalah, dan memiliki kecakapan dalam menyajikan pendapat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Perubahan TOP 10 SKILL yang dibutuhkan di Pasar Kerja Masa Depan
No 2015 2020
1 Pemecahan Masalah Pemecahan Masalah
2 Kemampuan Berkoordinasi Berfikir Kritis
3 Manajemen SDM Kreativitas
4 Berfikir Kritis Manajemen SDM
5 Negosiasi Kemampuan Berkoordinasi
6 Quality Control Kemampuan Emosional
7 Service Orientation Pengambilan Keputusan
8 Pengambilan Keputusan Service Orientation
9 Pendengar Aktif Negosiasi
10 Kreativitas Cognitive Flexibility

 

  1. Kelompok Jabatan yang Dibutuhkan oleh Industri 2021-2025

Proyeksi 5 jabatan yang paling dibutuhkan tahun 2021-2025, yaitu:

  1. Manajemen
  2. Kantor dan administrasi
  3. Bisnis dan operasi keuangan
  4. Komputer dan matematika
  5. Pendidikan dan pelatihan

 

  1. Kelompok Jabatan yang Dibutuhkan oleh Industri 2026-2030

Proyeksi jabatan yang paling dibutuhkan tahun 2026-2030

  1. Manajemen
  2. Pendidikan dan pelatihan
  3. Kantor dan administrasi
  4. Komputer dan matematika
  5. Hokum
  6. Permasalahan Pokok SDM/Tenaga Kerja Indonesia
  7. Kuantitas, luaran Pendidikan formal, belum siap kerja
  8. Kualitas/kompetensi, kualitas SDM/TK didominasi Pendidikan rendah
  9. Gap antar lokasi, kesenjangan kualitas SDM/TK tidak merata
  10. Produktivitas tenaga kerja, produktivitas masih rendah
  11. Keberpihakan industry/pengguna, industry/pengguna belum berpihak kepada kompetensi SDM/TK
  12. Dampak Industri 4.0 Bagi Tenaga Kerja Indonesia
  13. Teknologi/robot mengganti otot/tenaga manusia
  14. Teknologi menggantikan pekerjaan berbahaya
  15. Teknologi memutus jarak
  16. Pekerjaan lama perlahan-lahan akan memudar, contoh:
  17. Petugas pos
  18. Penjaga pintu tol
  19. Teller bank
  20. Dll
  21. Pekerjaan baru muncul, contoh:
  22. Apps creator/developer
  23. Big data analys
  24. Drone operator

Pintar dan terampil saja belum cukup negara harus hadir menyiapkan SDM yang memiliki jiwa mandiri dengan mental self driving, self power, kreatif dan inovasi untuk menjelajahi profesi baru serta responsive mengahadapi perubahan.

  1. Upaya kemnaker untuk mempersiapkan SDM pada era industry 4.0

Mempersiapkan tenaga kerja Indonesia

  1. Pendidikan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan LULUSAN untuk siap bekerja dan mampu menciptakan lapangan kerja dengan memanfaatkan potensi yang terdapat disekitarnya.
  2. Pendidkan perlu merubah orientasi lulusan dari worker society ke employee society untuk menjadi entrepreneur society.
  3. Lembaga Pendidikan dan pelatihan harus melakukan perubahan kurikulum menuju “Transformasi Skills” dengan memanfaatkan TIK sebagai basis
  4. Strategi Ketenagakerjaan

Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Merespon Ketenagakerjaan Masa Depan

  1. Melakukan re-design kurikulum dengan pendekatan human digital
  2. KOLABORASI, antara dunia industry, lembaga dklat, Kadin/apindo, asosiasi untuk identifikasi kebutuha kompetensi masa depan
  3. INVESTASI pengembangan digital skills serta PENGAKUAN (REKOGNISI), kompetensi
  4. Program 3 R (reorientasi, revitalisasi, rebranding)

Tujuan: supaya pelatihan vokasi yang diselenggarakan oleh BLK dapat memiliki kesesuaian atau link and match dengan kebutuhan dunia industry dan dunia kerja yang kian dinamis. Melalui:

  1. Merubah mindset lma BLK
  2. Melakukan evaluasi terhadap jurusan dan disesuaikan dengan visi pemerintahan
  3. Meningkatkan kerjasama dengan industry
  4. Bekerjasama dengan BLK diluar negeri
  5. Fokus dan massif dalam mengarahkan pengelolaan BLK
  6. Memaksimalkan momentum deklarasi pemagangan
  7. Melakukan perbaikan kualitas infrastruktur dan standar kualitas program pelatihan
  8. Penyiapan SDM yang Brkualitas, Pembentukan Politeknik kketenagakerjaan

Tahun 2017 politeknik ketenagakerjaan diresmikan dengan 3 program studi, yaitu:

  1. D4 program studi keselamatan dan kesehatan kerja
  2. D4 program studi relasi industry
  3. D3 program studi manajemen SDM
  4. Penyiapan SDM yang berkualitas: Kemitraan antara Lembaga Pelatihan dan Industri

Komite vokasi yang beranggota kamar dagang an industry (KADIN. Asosiasi pengusaha Indonesia (APINDO), kalangan academia dan praktisi

  1. Merupakan program pengembangan kemitraan pemerintah dengan dunia industry, antara pemerintah pusat dan daerah, untuk peningkatan kualitas tenaga kerja.
  2. Adalah amanat ”Peraturan Menteri Ketenagaan RI no 27 Tahun 2016 tentang Rencana Strategi Kementerian Ketenagakerjaan thun 2015-2016

Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Kesetaraan)

 

Pendahuluan

Pendidikan Luar Sekolah adalah Pendidikan yang dirancang untuk membelajarkan warga belajar agar mempunyai jenis keterampilan d   an atau pengetahuan serta pengalaman yang dilaksanakan di luar jalur pendidikan formal (persekolahan). Pendidikan luar sekolah yang dicanangkan pemerintah ini sebagai subsistem dari pendidikan nasional, hingga saat ini kurang diperhatikan. Selain itu, program pendidikan luar sekolah memang belum bisa dilaksanakan secara optimal. Padahal melihat tujuan pokok dari pendidikan luar sekolah sebetulnya mampu memberikan pelayanan khusus bagi masyarakat berdasarkan kebutuhannya, juga berperan dalam mendukung dan melengkapi pendidikan sekolah. Padahal melihat dari program untuk mencapai tujuan dari Pendidikan luar sekolah ini mampu memberikan pelayanan bagi masyarakat yang belum pernah tersentuh oleh Pendidikan sekali pun ataupun yang belum menyelesaikan pendidikannya karena berbagai hal yang menghambat sehingga masyarakat dapat melengkapi pendidikannya.

 

Pendidikan Luar Sekolah saat ini masih dianggap sebagai pelengkap, sehingga pemerintah pun kurang begitu memerhatikan program yang dicanangkan untuk masyarakat dengan banyak keterbatasan, seperti yang buta aksara, masyarakat miskin, masyarakat yang putus sekolah atau masyarakat yang belum pernah tersentuh oleh Pendidikan, dan masyarakat lainnya.

 

Masyarakat dengan kondisi seperti diatas semakin lama semakin meningkat dinegara Indonesia ini. Selain itu angka pengangguran di Indonesia pun masih terbilang tinggi, mengapa hal itu masih menjadi permasalahan Indonesia saat ini.

 

Ada 8 macam penyebab masih tingginya angka pengangguran di Indonesia:

  1. Pengangguran friksional (frictional unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan adanya kesulitan mempertemukan antara pihak yang membutuhkan tenaga kerja dengan pihak yang memiliki tenaga kerja (angkatan kerja).
  2. Pengangguran struktural (Structural unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.
  3. Pengangguran teknologi (Technology unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan perkembangan/pergantian teknologi. Perubahan ini dapat menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa menggunakan teknologi yang diterapkan.
  4. Pengangguran kiknikal adalah pengangguran yang disebabkan kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu menampung semua pekerja yang ada.
  5. Pengangguran musiman adalah pengangguran akibat siklus ekonomi yang berfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada bidang pertanian dan perikanan. Contohnya adalah para petani dan nelayan.
  6. Pengangguran setengah menganggur adalah pengangguran di saat pekerja yang hanya bekerja di bawah jam normal (sekitar 7-8 jam per hari).
  7. Pengangguran keahlian adalah pengangguran yang disebabkan karena tidak adanya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian.
  8. Pengangguran total adalah pengangguran yang benar-benar tidak mendapat pekerjaan, karena tidak adanya lapangan kerja atau tidak adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja.

 

Dari seluruh penyebab masih tingginya angka pengangguran Indonesia diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya masalahnya adalah kurangnya keterampilan masyarakat yang disebabkan rendahnya Pendidikan. Masyarakat dengan Pendidikan yang rendah bahkan belum pernah merasakan Pendidikan sekalipun tentu tidak banyak memiliki keahlian terutama dibidang teknologi. Zaman semakin kemari akan semakin canggih. Jika masyarakat tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengimbangi pesatnya kemajuan teknologi maka masyarakat seperti mereka akan lebih terbelakang dan akibat yang sudah dapat dipastikan ialah hilangnya pekerjaan.

Seperti kalimat “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”

Selain kurangnya keterampilan, masyarakat juga membutuhkan pendidikap sikap. Dalam bekerja masyarakat penting memiliki sikap dan perilaku yang membuat pekerjaannya bagus, atau jika bekerja dalam perusahaan dapat membuat perusahaan tersebut percaya akan kepribadiannya dan puas dengan perilakunya dalam bekerja. Maka dari itu Pendidikan karakter atau sikap juga penting demi meningkatkan potensi diri.

 

Besarnya angka pengangguran di Indonesia, besarnya angka putus sekolah dan yang belum pernah mengenyam Pendidikan menjadi alasan mendasar pemerintah mengupayakan Pendidikan Luar Sekolah. Pendidikan Luar Sekolah memiliki tujuan melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin, membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, mencari nafkah ataupun melanjutkan jenjang Pendidikan.

Salah satu program Pendidikan luar sekolah yaitu Pendidikan kesetaraan, dengan dibuatnya Pendidikan kesetaraan dapat membantu masyarakat yang belum lulus dalam sekolah formal atau masyarakat yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh dunia Pendidikan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas bahwasanya Pendidikan Luar Sekolah ini kurang begitu mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat  baik secara peraturan maupun dukungan anggaran sehingga pelayanan bagi masyarakat belum optimal. Selain hal ini masih ada masalah lain yang menjadikan program pengembangan Pendidikan Luar Sekolah belum maksimal dijalankan.

Pertama terbatasnya jumlah dan mutu tenaga professional pada institusi PLS di tigkat pusat dan daerah dalam mengelola dan mengembangkan dan melembagakan PLS.

 

Kedua masih terbatasnya sarana dan prasarana PLS baik yang menunjang penyelenggaraan maupun proses pembelajaran PLS dalam rangka memperluas kesempatan, peningkatan mutu dan relevansi hasil program PLS dengan kebutuhan pembangunan.

Keempat, terselenggaranya kegiatan PLS di lapangan tergantung pada tenaga sukarela yang tidak ada kaitan struktural dengan pemerintah sehingga tidak ada jaminan kesinambungan pelaksanaan program PLS. Kelima, partisipasi masyarakat dalam memprakarsai penyelenggaraan dan pelembagaan PLS masih relatif sangat rendah.

 

Mungkin karena sasaran Pendidikan Luar Sekolah adalah masyarakat yang tidak tertampung di Pendidikan formal menjadikan masyarakat memandang Pendidikan Luar Sekolah sama sekali ‘tidak bergengsi’.

 

Maka dari itu dalam artikel ini terdapat pengembangan program Pendidikan kesetaraan dari segi media dan materi yang mana harapannya pengembangan program pembelajaran PLS ini dapat lebih berkembang sesuai dengan tujuan Pendidikan itu sendiri yang khususnya dilaksanakan dalam program Pendidikan luar sekolah.

 

  1. Langkah-Langkah Pengembangan Pendidikan Kursus dan Pelatihan

Di dalam pengembangan program pendidikan luar sekolah, pada dasarnya mengikuti sejumlah langkah- langkah tertentu. Yang mana langkah- langkah tersebut adalah:
• Penentuan populasi sasaran
• Identifikasi kebutuhan pelajar
• Identifikasi sumber- sumber belajar yang relevan
• Penentuan strategi pelaksanaan pendidikan luar sekolah

 

 

  1. Penentuan populasi sasaran

Penentuan populasi sasaran merupakan langkah pertama yang perlu secara tegas ditetapkan. Penentuan tersebut bisa jadi menggambarkan berbagai variasi misalnya variabel lingkungan tempat tinggal bisa dibagi kedalam perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan. Tingkatan usia berkaitan langsung dengan tingkatan perkembangan baik usia muda, remaja sampai dewasa. Ataupun pada variabel jenis kelamin, laki-laki atau terbatas pada kaum wanitanya. Sosial populasi, sasaran tersebut sangat penting ditetapkan secara cermat dan jelas, perlu dihindari penetapan populasi yang bersifat mengambang. Jelas atau mengambangnya populasi sasaran akan menentukan langkah- langkah berikutnya.
Populasi sasaran dalam pengembangan program PLS ini adalah seluruh masyarakat yang tidak tertampung di pendidikan formal.

 

  1. Identifikasi kebutuhan belajar pelajar

Mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik merupakan hal yang penting. Pada langkah ini kita harus mengetahui apa yang akan kita didikkan kepada peserta didik baik secara pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Setelah mengetahui kebutuhan belajar peserta didik dapat diterapkan dengan menggunakan berbagai metode atau teknik dalam kegiatan pembelajaran asalkan harus tetap sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Kebutuhan belajar masyarakat yang tidak tertampung di Pendidikan formal adalah pekerjaan. Masyarakat yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan (skill) dalam dirinya untuk mengimbangi perkembangan zaman yang semakin lama semakin canggih maka akan semakin terbelakang dan sulit mendapat pekerjaan yang baik. Maka masyarakat membutuhkan Pendidikan demi meningkatkan taraf hidupnya.

 

  1. Identifikasi sumber-sumber belajar

Sumber-sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran dapat berupa manusia maupun non-manusia. Sumber belajar berupa manusia adalah manusia yang sudah dikatakan professional, terampil dan berpengetahuan luas dalam masyarakat. Sedangkan sumber belajar non-manusia adalah fasilitas belajar seperti peralatan belajar, juga seperti buku yang bernilai fungsional bagi terwujudnya kegiatan atau proses belajar dari populasi sasaran.

 

  1. Penentuan strategi pelaksanaan kelembagaan

Dalam langkah ini harus sudah dijelaskan dengan jelas bagaimana gambarannya strategi yang akan dilaksanakan. Dalam pengembangan program Pendidikan kesetaraan ini terdapat strategi yang akan dilaksanakan yakni dalam segi media dan materi yang akan perlu dikembangkan.

 

Pertama dari segi media, media pembelajaran adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan, dan yang nantinya akan menghasilkan feedback dari komunikan ke komunikator. Media pembelajaran dalam Pendidikan kesetaraan saat ini sedang merayap sedikit demi sedikit agar dapat membuat warga belajar memahami apa yang ingin fasilitator/tutor sampaikan dalam pembelajaran. Dalam belajar warga belajar memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang secara visual, audio mauun audiovisual. Dan saat didalam kelas semuanya berada dalam tempat yang sama, aka yang harus memainkan peran dengan baik adalah fasilitator/ tutornya. Fasilitator/tutor diharuskan mampu menggunakan media belajar yang semua warga belajar dapat menangkap dengan baik, warga belajar dengan cara belajar visual, audio maupun audiovisual semuanya dapat memahami apa yang disampaikan. Ada banyak media yang dapat fasilitator/tutor gunakan dalam memberikan pembelajaran kepada warga belajar, misalnya dalam belajar fasilitator/tutor menggunakan powerpoint untuk menyampaikan materi. Dengan paparan slide di powerpoint akan membantu warga belajar yang cara belajarnya secara visual, penjelasan fasilitator/tutor dapat membantu warga belajar yang cara belajarnya secara audio, semisal fasilitator/tutor menambahkan video dipaparan dala powerpointnya akan membantu warga belajar yang cara belajarnya secara audiovisual.

 

 

Berkaitan dengan pengembangan program Pendidikan kesetaraan, warga belajar dituntut untuk bisa belajar secara visual, audio maupun audiovisual. Program Pendidikan kesetaraan yang saya ingin kembangkan dari segi media ini adalah menggunakan komputer. Teknologi saat ini semakin lama semakin berkembang, keahlian menggunakan computer sudah menjadi hal yang biasa dan harus cepat dipahami oleh masyarakat yang awam akan computer apalagi yang menginginkan pekerjaan yang lebih layak dizaman seperti sekarang. Pembelajaran yang ada di Pendidikan kesetaraan seperti paket B atau paket C dapat dibiasakan dengan computer. Tujuannya apa?

Tujuannya agar warga belajar terbiasa menggunakan computer ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya diatas mengenai sebab pengangguran di Indonesia. Yakni masyarakat semakin terbelakang karena kurang memiliki keterampilan dan keahlian. Salah satunya kurang memiliki kemampuan atau keahlian dalam mengoperasikan computer. Bisa dilihat pekerjaan yang dibutuhkan sekarang ini kebanyakan mencantumkan kualifikasi pekerja yang diinginkan seperti mampu mengoperasikan computer dengan baik. Masyarakat yang tidak memiliki keterampilan dan keahlian mengoperasikan computer maka akan semakin terbelakang dan sulit mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Karena selain ijazah, skill juga sangat dibutuhkan dalam bekerja.

 

 

Maka dari itu pemerintah harusnya tidak boleh menganggap bahwa Pendidikan luar sekolah ini sebagai Pendidikan pelengkap saja. Sehingga apa-apa yang dibutuhkan untuk keberlangsungan pembelajaran didalamnya kurang diperhatikan. Pemerintah harus melek, banyak kebutuhan yang sampai saat ini dibutuhkan warga belajar untuk belajar terutama sarana prasarana.

 

 

Kedua dari segi materi yang ingin dikembangkan dalam pengembangan Pendidikan kesetaraan ini. Sebetulnya meteri pembelajaran ini tidak hanya ingin dikembangkan di Pendidikan luar sekolah saja, namun dipendidikan formal pun hal ini perlu untuk diberikan kepada warga belajar. Materi yang saya maksud disini adalah materi pembelajaran moral. Mengapa moral?

Tahukan kalian, saat ini masyarakat Indonesia memiliki moral yang terbilang bobrok. Untuk apa pintar dan banyak pengetahuan namun memiliki sikap/moral yang tidak seimbang. Salah satu perilaku yang diharapakan oleh suatu perusahaan misalnya adalah perilaku yang baik dari pekerja/karyawannya seperi kejujuran dan tanggungjawab. Bekerja dengan tidak belandaskan kejujuran dan tanggungjawab yang tinggi akan menjadi ancaman untuk dirinya sendiri. Pembelajara seperti ini akan bermanfaat untuknya setelah keluar dari Lembaga Pendidikan. Ada alasan

Mengapa sikap kejujuran sangat penting dalam bekerja nantinya:

  1. Membantu menjaga reputasi baik

Perilaku yang jujur dalam bekerja akan membuat kita memiliki reputasi yang baik dalam tempat bekerja dengan atasan maupun dengan sesame rekan kerja.

  1. Meningkatkan kredibilitas didepan atasan dan rekan kerja

Memiliki kredibitas yang baik seperti kejujuran ini akan membuat anda mudah dipercaya oleh atasan atau rekan kerja. Meningkatnya kredibilitas anda dalam bekerja akan membuat anda yang dipintahkan untuk mengurus dan bertemu dengan klien, diberi pekerjaan yang berbeda dengan rekan kerja yang lainnya. Tentunya hal tersebut tidak akan sia-sai, itu akan meningkatkan penghasilan anda.

  1. Kejujuran meningkatkan level kesehatan anda

Ternyata dengan perilaku yang sudah terbiasa jujur dapat meningkatkan kesehatan juga. Karena dengan berperilaku jujur anda akan terus berfikiran positif, dengan anda berperilaku tidak jujur anda akan memikirkan cara untuk berbohong dan fikiran seperti itu adalah pemikiran yang negative sehingga berpengaruh terhadap kesehatan anda.

 

Berkaitan dengan pengembangan program Pendidikan kesetaraan ini, fasilitator/tutor dapat membuat pembelajaran dengan prinsip kejujuran semisal dengan memberikan tugas kepada warga belajar seperti membuat artikel, quiz dan yang lainnya namun tidak boleh plagiat terhadap karya orang lain. Fasilitator/tutor harus memiliki alat untuk memeriksa tugas mereka apakah jawaban dan karya mereka ada yang plagiat atau murni jawaban dan karya mereka sendiri. Dengan begitu, jika ada warga belajar yang melakukan plagiat akan dengan mudah diketahui. Dengan menerapkan cara belajar seperti ini maka warga belajar akan terbiasa berkarya dan menjawab secara murni dari pemikirannya sendiri.

 

Ketiga dari segi metode yang digunakan untuk pembelajaran. Berkaitan dengan pengembangan program Pendidikan kesetaraan, Pendidikan kesetaraan itu isinya orang-orang yang umurnya berbeda-beda. Jadi cara/metode yang digunakan dalam pembelajaran pun harus diperhatikan. Menurut saya metode yang perlu dikembangkan dalam Pendidikan kesetaraan adalah metode dengan selang-seling. Maksudnya disini, seluruh metode pembelajaran yang ada dapat digunakan secara selang-seling. Misal dalam satu pertemuan fasilitator/tutor dapat menggunakan banyak metode dalam belajar karena salah satu tujuannya agar pembelajaran menjadi tidak monoton dan membosankan. Contoh, tutor yang sedang mengajar dikelas pertama menggunakan metode ceramah dalam mengawali pembelajaran, setelah itu tutor/fasilitator mengarahkan warga belajar untuk memebentuk kelompok dan diberikan tugas untuk memperagakan apa yang telah diperintahkan. Namun sebelum memperagakan, warga belajar diberi waktu untuk berdiskusi terlebih dahulu untuk membahas tugasnya.

 

  1. Kesimpulan

Dari seluruh paparan yang dijelaskan dalam artikel ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk melakukan pengembangan program Pendidikan Luar Sekolah banyak yang bisa dilakukan. Dapat dikembangkan dari segi media, materi maupun metodenya. Seluruh usaha untuk mengembangkan program Pendidikan PLS ini tentunya tidak terlepas dari bantuan seluruh pengurus yang ada.

 

 

 

 

 

Referensi:

 

http://pustakamirzan.blogspot.com/2010/11/pengembangan-program-pendidikan-luar.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_luar_sekolah

https://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran

https://blog.ruangguru.com/3-alasan-pentingnya-bersikap-jujur-di-tempat-kerja

 

 

SAKSI ITU AMANAH BESAR !!!

Pemilu sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Pemilu tahun 2019 ini adalah pemilu yang paling ramai sampai dijuluki pesta demokrasi, karena seluruh warga Indonesia turun serta dalam menyukseskan pemilu ini dan bebas menyalurkan aspirasinya  melalui pemilu yang jujur, rahasia, langsung dan adil. Para remaja sampai orang lanjut usia masih bekerja sampai saat ini. Dari mulai yang menjadi KPPS, panwaslu, bawaslu, KPU, saksi caleg /parpol dan yang lainnya sangat bersemangat menjalankan tugas-tugasnya dalam pemilu tahun ini. Para pemilih pun amat antusias datang ke setiap TPS untuk menyalurkan suara mereka masing-masing. Banyak harapan yang diinginkan warga dipemilu ini, yaitu terpilihnya pemimpin-pemimpin yang amanah dan dapat menyejahterakan rakyatnya tentu dengan cara yang damai tanpa mengusik kehidupan rakyatnya.

Disisi lain saya merasa sangat khawatir!

Jujur saja dipemilu ini saya berpartisipasi dan ditugaskan menjadi seorang saksi dari salah satu partai politik di Kelurahan Ciaruten Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor tepatnya di TPS 21. Disana saya menjalankan tugas saya sampai akhir, dan mendapatkan C1 yaitu hasil wajib yang harus dibawa sebagai bukti. Di TPS 21 ini saya ditemani dengan saksi-saksi lainnya dari lisensi partai politik yang berbeda-beda pula yang juga diembani tugas yang sama.

Mengapa saya merasa sangat khawatir?

Perlu diketahui seorang saksi adalah elemen penting dalam pemilu. Karena saksi berkaitan langsung dengan akses Data Valid perhitungan suara yang sah bahkan penting fungsinya ketika ada sengketa. Bukan menjadi saksi buta, yang bertugas “asalkan dapat C1”. Beberapa hal yang harus diperhatikan menjadi seorang saksi adalah memiliki loyalitas dan kemampuan, saksi haruslah direkrut jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan pemilu, saksi pun haruslah dilakukan pelatihan akan tugas dan kewajibannya agar saat bertugas dapat memperhatikan secara maksimal segala hal yang terjadi.

Dari mulai pembukaan pemungutan suara sampai selesai perhitungan suara saksi memiliki kewajiban menyaksikan sampai selesai. Beberapa rincian tugas saksi adalah menyiapkan formulir yang disiapkan oleh tim kampanye dari peserta pemilu, bila ada hendaknya membawa buku/pedoman saksi, membawa kelengkapan tulis menulis. Fungsi dari membawa kelengkapan tulis menulis yaitu untuk membuat catatan pribadi perihal surat suara yang dibacakan KPPS satu persatu. Karena, saksi pun harus memiliki catatan pribadi agar saat terjadi kesalahan saksi mengetahuinya. Jika tidak menulis catatan pribadi dan ketika ada kesalahan yang tidak saksi catat maka dapat dipastikan itu beresiko terjadi ketidakvalidan jumlah surat suara yang sah dan tidak sahnnya. Saksi itu harus dipastikan bersih dari tindakan yang menyeleweng atau memihak pada peserta pemilu yang menugaskannya atau yang lain. Jika ada saksi yang melakukan tindak kecurangan, sesungguhnya sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan pemilu. Ketika saksi mengetahui ada kesalahan hendaknya disampaikan saat selesai perhitungan suara agar dapat langsung diperbaiki. Maka dari itu saksi harus benar-benar melihat, mendengar, memahami segala hal yang terjadi saat perhitungan suara ini. Dan yang terpenting saat menjadi saksi adalah sabar menghadiri perhitungan suara, tidak boleh terburu-buru dan tidak boleh mengedepankan keinginan pribadi dengan berbagai alasan. Karena yang dipertaruhkan disini adalah penting. Hal itulah yang mengharuskan seorang saksi itu memiliki loyalitas dan kemampuan yang tinggi.

Ada beberapa saksi yang saya ketahui baru direkrut H-1 pemilu, dan hal itu yang akan menjadi masalah bagi peserta pemilu. Resiko yang dipastikan terjadi jika saksi direkrut tidak dari jauh-jauh hari dan tidak diberikan pembekalan yaitu ketidaktahuan saksi akan tugasnya, kurang maksimal dalam bertugas karena ketidakpahamannya, tidak aktif ketika terjadi kesalahan seperti ketidakcocokan suara sah dengan plano didinding. Hal itu akan berakibat fatal untuk seterusnya jika C1 yang ada kesalahan dan tidak dibenarkan lalu diserahkan kepada partai politik, caleg ataupun kontestan pilpres. Satu suara yang terlewakan bisa jadi adalah masa depan negeri ini, maka dari itu saksi harus jeli. Negara ini sudah mengeluarkan banyak sekali budget untuk mendanai pemilu ini. Jangan sampai kita hanya menjadi saksi buta dalam pemilu.

Siapapun pemimpinnya sudah dituliskan di lauh mahfudz, tapi yang akan dipertanyakan sebesar apa perjuangan kita dalam kegiatan ini.

Saksi itu bukan tugas yang mudah loh, semua yang kita lakukan akan ada pertanggungjawabannya bukan hanya didunia tapi juga diakhirat. Inget itu!

Kalau jadi saksi asal-asalan dan ada kesalahan yang tidak dibenarkan, maka orang lain yang akan menanggung resikonya dan bisa saja pemimpin-pemimpin yang seharusnya mendapatkan kursi disana jadi tidak dapat apa-apa hanya karena kecerobohan saksi. Mungkin saat ini pemilu sudah berlalu, namun masih ada kesempatan dipemilu berikutnya. Yang ingin saya tegaskan disini adalah mengenai pemberdayaan saksi yang akan bertugas di TPS sebelum pemilu. Bukankah jika orang-orang dibelakang layar ini memiliki loyalitas yang tinggi dan maksimal dalam bertugas, negara ini juga yang akan mendapatkan hasil baiknya? Apalagi sebagai seorang mahasiswa yang menjadi Agent Of Change, peran mahasiswa dipertanyakan disini. Negara ini sudah banyak memfasilitasi berjalannya pemilu ini, sudah sebaiknya pula kita memberikan yang terbaik untuk negeri ini.

Jangan tanyakan seberapa besar yang negara ini berikan untuk kita, tapi seberapa besar yang kita berikan untuk negara ini.

Semoga dalam pemilu ini bisa menjadi pembelajaran berharga untuk pemilu yang akan datang.

#Berdayalah #Mpowers #Pemiluasik