Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Kesetaraan)

 

Pendahuluan

Pendidikan Luar Sekolah adalah Pendidikan yang dirancang untuk membelajarkan warga belajar agar mempunyai jenis keterampilan d   an atau pengetahuan serta pengalaman yang dilaksanakan di luar jalur pendidikan formal (persekolahan). Pendidikan luar sekolah yang dicanangkan pemerintah ini sebagai subsistem dari pendidikan nasional, hingga saat ini kurang diperhatikan. Selain itu, program pendidikan luar sekolah memang belum bisa dilaksanakan secara optimal. Padahal melihat tujuan pokok dari pendidikan luar sekolah sebetulnya mampu memberikan pelayanan khusus bagi masyarakat berdasarkan kebutuhannya, juga berperan dalam mendukung dan melengkapi pendidikan sekolah. Padahal melihat dari program untuk mencapai tujuan dari Pendidikan luar sekolah ini mampu memberikan pelayanan bagi masyarakat yang belum pernah tersentuh oleh Pendidikan sekali pun ataupun yang belum menyelesaikan pendidikannya karena berbagai hal yang menghambat sehingga masyarakat dapat melengkapi pendidikannya.

 

Pendidikan Luar Sekolah saat ini masih dianggap sebagai pelengkap, sehingga pemerintah pun kurang begitu memerhatikan program yang dicanangkan untuk masyarakat dengan banyak keterbatasan, seperti yang buta aksara, masyarakat miskin, masyarakat yang putus sekolah atau masyarakat yang belum pernah tersentuh oleh Pendidikan, dan masyarakat lainnya.

 

Masyarakat dengan kondisi seperti diatas semakin lama semakin meningkat dinegara Indonesia ini. Selain itu angka pengangguran di Indonesia pun masih terbilang tinggi, mengapa hal itu masih menjadi permasalahan Indonesia saat ini.

 

Ada 8 macam penyebab masih tingginya angka pengangguran di Indonesia:

  1. Pengangguran friksional (frictional unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan adanya kesulitan mempertemukan antara pihak yang membutuhkan tenaga kerja dengan pihak yang memiliki tenaga kerja (angkatan kerja).
  2. Pengangguran struktural (Structural unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan oleh penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja.
  3. Pengangguran teknologi (Technology unemployment) adalah pengangguran yang disebabkan perkembangan/pergantian teknologi. Perubahan ini dapat menyebabkan pekerja harus diganti untuk bisa menggunakan teknologi yang diterapkan.
  4. Pengangguran kiknikal adalah pengangguran yang disebabkan kemunduran ekonomi yang menyebabkan perusahaan tidak mampu menampung semua pekerja yang ada.
  5. Pengangguran musiman adalah pengangguran akibat siklus ekonomi yang berfluktuasi karena pergantian musim. Umumnya pada bidang pertanian dan perikanan. Contohnya adalah para petani dan nelayan.
  6. Pengangguran setengah menganggur adalah pengangguran di saat pekerja yang hanya bekerja di bawah jam normal (sekitar 7-8 jam per hari).
  7. Pengangguran keahlian adalah pengangguran yang disebabkan karena tidak adanya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang keahlian.
  8. Pengangguran total adalah pengangguran yang benar-benar tidak mendapat pekerjaan, karena tidak adanya lapangan kerja atau tidak adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja.

 

Dari seluruh penyebab masih tingginya angka pengangguran Indonesia diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya masalahnya adalah kurangnya keterampilan masyarakat yang disebabkan rendahnya Pendidikan. Masyarakat dengan Pendidikan yang rendah bahkan belum pernah merasakan Pendidikan sekalipun tentu tidak banyak memiliki keahlian terutama dibidang teknologi. Zaman semakin kemari akan semakin canggih. Jika masyarakat tidak memiliki bekal yang cukup untuk mengimbangi pesatnya kemajuan teknologi maka masyarakat seperti mereka akan lebih terbelakang dan akibat yang sudah dapat dipastikan ialah hilangnya pekerjaan.

Seperti kalimat “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”

Selain kurangnya keterampilan, masyarakat juga membutuhkan pendidikap sikap. Dalam bekerja masyarakat penting memiliki sikap dan perilaku yang membuat pekerjaannya bagus, atau jika bekerja dalam perusahaan dapat membuat perusahaan tersebut percaya akan kepribadiannya dan puas dengan perilakunya dalam bekerja. Maka dari itu Pendidikan karakter atau sikap juga penting demi meningkatkan potensi diri.

 

Besarnya angka pengangguran di Indonesia, besarnya angka putus sekolah dan yang belum pernah mengenyam Pendidikan menjadi alasan mendasar pemerintah mengupayakan Pendidikan Luar Sekolah. Pendidikan Luar Sekolah memiliki tujuan melayani warga belajar supaya dapat tumbuh dan berkembang sedini mungkin, membina warga belajar agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri, mencari nafkah ataupun melanjutkan jenjang Pendidikan.

Salah satu program Pendidikan luar sekolah yaitu Pendidikan kesetaraan, dengan dibuatnya Pendidikan kesetaraan dapat membantu masyarakat yang belum lulus dalam sekolah formal atau masyarakat yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh dunia Pendidikan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas bahwasanya Pendidikan Luar Sekolah ini kurang begitu mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat  baik secara peraturan maupun dukungan anggaran sehingga pelayanan bagi masyarakat belum optimal. Selain hal ini masih ada masalah lain yang menjadikan program pengembangan Pendidikan Luar Sekolah belum maksimal dijalankan.

Pertama terbatasnya jumlah dan mutu tenaga professional pada institusi PLS di tigkat pusat dan daerah dalam mengelola dan mengembangkan dan melembagakan PLS.

 

Kedua masih terbatasnya sarana dan prasarana PLS baik yang menunjang penyelenggaraan maupun proses pembelajaran PLS dalam rangka memperluas kesempatan, peningkatan mutu dan relevansi hasil program PLS dengan kebutuhan pembangunan.

Keempat, terselenggaranya kegiatan PLS di lapangan tergantung pada tenaga sukarela yang tidak ada kaitan struktural dengan pemerintah sehingga tidak ada jaminan kesinambungan pelaksanaan program PLS. Kelima, partisipasi masyarakat dalam memprakarsai penyelenggaraan dan pelembagaan PLS masih relatif sangat rendah.

 

Mungkin karena sasaran Pendidikan Luar Sekolah adalah masyarakat yang tidak tertampung di Pendidikan formal menjadikan masyarakat memandang Pendidikan Luar Sekolah sama sekali ‘tidak bergengsi’.

 

Maka dari itu dalam artikel ini terdapat pengembangan program Pendidikan kesetaraan dari segi media dan materi yang mana harapannya pengembangan program pembelajaran PLS ini dapat lebih berkembang sesuai dengan tujuan Pendidikan itu sendiri yang khususnya dilaksanakan dalam program Pendidikan luar sekolah.

 

  1. Langkah-Langkah Pengembangan Pendidikan Kursus dan Pelatihan

Di dalam pengembangan program pendidikan luar sekolah, pada dasarnya mengikuti sejumlah langkah- langkah tertentu. Yang mana langkah- langkah tersebut adalah:
• Penentuan populasi sasaran
• Identifikasi kebutuhan pelajar
• Identifikasi sumber- sumber belajar yang relevan
• Penentuan strategi pelaksanaan pendidikan luar sekolah

 

 

  1. Penentuan populasi sasaran

Penentuan populasi sasaran merupakan langkah pertama yang perlu secara tegas ditetapkan. Penentuan tersebut bisa jadi menggambarkan berbagai variasi misalnya variabel lingkungan tempat tinggal bisa dibagi kedalam perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan. Tingkatan usia berkaitan langsung dengan tingkatan perkembangan baik usia muda, remaja sampai dewasa. Ataupun pada variabel jenis kelamin, laki-laki atau terbatas pada kaum wanitanya. Sosial populasi, sasaran tersebut sangat penting ditetapkan secara cermat dan jelas, perlu dihindari penetapan populasi yang bersifat mengambang. Jelas atau mengambangnya populasi sasaran akan menentukan langkah- langkah berikutnya.
Populasi sasaran dalam pengembangan program PLS ini adalah seluruh masyarakat yang tidak tertampung di pendidikan formal.

 

  1. Identifikasi kebutuhan belajar pelajar

Mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik merupakan hal yang penting. Pada langkah ini kita harus mengetahui apa yang akan kita didikkan kepada peserta didik baik secara pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Setelah mengetahui kebutuhan belajar peserta didik dapat diterapkan dengan menggunakan berbagai metode atau teknik dalam kegiatan pembelajaran asalkan harus tetap sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Kebutuhan belajar masyarakat yang tidak tertampung di Pendidikan formal adalah pekerjaan. Masyarakat yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan (skill) dalam dirinya untuk mengimbangi perkembangan zaman yang semakin lama semakin canggih maka akan semakin terbelakang dan sulit mendapat pekerjaan yang baik. Maka masyarakat membutuhkan Pendidikan demi meningkatkan taraf hidupnya.

 

  1. Identifikasi sumber-sumber belajar

Sumber-sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran dapat berupa manusia maupun non-manusia. Sumber belajar berupa manusia adalah manusia yang sudah dikatakan professional, terampil dan berpengetahuan luas dalam masyarakat. Sedangkan sumber belajar non-manusia adalah fasilitas belajar seperti peralatan belajar, juga seperti buku yang bernilai fungsional bagi terwujudnya kegiatan atau proses belajar dari populasi sasaran.

 

  1. Penentuan strategi pelaksanaan kelembagaan

Dalam langkah ini harus sudah dijelaskan dengan jelas bagaimana gambarannya strategi yang akan dilaksanakan. Dalam pengembangan program Pendidikan kesetaraan ini terdapat strategi yang akan dilaksanakan yakni dalam segi media dan materi yang akan perlu dikembangkan.

 

Pertama dari segi media, media pembelajaran adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari komunikator kepada komunikan, dan yang nantinya akan menghasilkan feedback dari komunikan ke komunikator. Media pembelajaran dalam Pendidikan kesetaraan saat ini sedang merayap sedikit demi sedikit agar dapat membuat warga belajar memahami apa yang ingin fasilitator/tutor sampaikan dalam pembelajaran. Dalam belajar warga belajar memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang secara visual, audio mauun audiovisual. Dan saat didalam kelas semuanya berada dalam tempat yang sama, aka yang harus memainkan peran dengan baik adalah fasilitator/ tutornya. Fasilitator/tutor diharuskan mampu menggunakan media belajar yang semua warga belajar dapat menangkap dengan baik, warga belajar dengan cara belajar visual, audio maupun audiovisual semuanya dapat memahami apa yang disampaikan. Ada banyak media yang dapat fasilitator/tutor gunakan dalam memberikan pembelajaran kepada warga belajar, misalnya dalam belajar fasilitator/tutor menggunakan powerpoint untuk menyampaikan materi. Dengan paparan slide di powerpoint akan membantu warga belajar yang cara belajarnya secara visual, penjelasan fasilitator/tutor dapat membantu warga belajar yang cara belajarnya secara audio, semisal fasilitator/tutor menambahkan video dipaparan dala powerpointnya akan membantu warga belajar yang cara belajarnya secara audiovisual.

 

 

Berkaitan dengan pengembangan program Pendidikan kesetaraan, warga belajar dituntut untuk bisa belajar secara visual, audio maupun audiovisual. Program Pendidikan kesetaraan yang saya ingin kembangkan dari segi media ini adalah menggunakan komputer. Teknologi saat ini semakin lama semakin berkembang, keahlian menggunakan computer sudah menjadi hal yang biasa dan harus cepat dipahami oleh masyarakat yang awam akan computer apalagi yang menginginkan pekerjaan yang lebih layak dizaman seperti sekarang. Pembelajaran yang ada di Pendidikan kesetaraan seperti paket B atau paket C dapat dibiasakan dengan computer. Tujuannya apa?

Tujuannya agar warga belajar terbiasa menggunakan computer ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya diatas mengenai sebab pengangguran di Indonesia. Yakni masyarakat semakin terbelakang karena kurang memiliki keterampilan dan keahlian. Salah satunya kurang memiliki kemampuan atau keahlian dalam mengoperasikan computer. Bisa dilihat pekerjaan yang dibutuhkan sekarang ini kebanyakan mencantumkan kualifikasi pekerja yang diinginkan seperti mampu mengoperasikan computer dengan baik. Masyarakat yang tidak memiliki keterampilan dan keahlian mengoperasikan computer maka akan semakin terbelakang dan sulit mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Karena selain ijazah, skill juga sangat dibutuhkan dalam bekerja.

 

 

Maka dari itu pemerintah harusnya tidak boleh menganggap bahwa Pendidikan luar sekolah ini sebagai Pendidikan pelengkap saja. Sehingga apa-apa yang dibutuhkan untuk keberlangsungan pembelajaran didalamnya kurang diperhatikan. Pemerintah harus melek, banyak kebutuhan yang sampai saat ini dibutuhkan warga belajar untuk belajar terutama sarana prasarana.

 

 

Kedua dari segi materi yang ingin dikembangkan dalam pengembangan Pendidikan kesetaraan ini. Sebetulnya meteri pembelajaran ini tidak hanya ingin dikembangkan di Pendidikan luar sekolah saja, namun dipendidikan formal pun hal ini perlu untuk diberikan kepada warga belajar. Materi yang saya maksud disini adalah materi pembelajaran moral. Mengapa moral?

Tahukan kalian, saat ini masyarakat Indonesia memiliki moral yang terbilang bobrok. Untuk apa pintar dan banyak pengetahuan namun memiliki sikap/moral yang tidak seimbang. Salah satu perilaku yang diharapakan oleh suatu perusahaan misalnya adalah perilaku yang baik dari pekerja/karyawannya seperi kejujuran dan tanggungjawab. Bekerja dengan tidak belandaskan kejujuran dan tanggungjawab yang tinggi akan menjadi ancaman untuk dirinya sendiri. Pembelajara seperti ini akan bermanfaat untuknya setelah keluar dari Lembaga Pendidikan. Ada alasan

Mengapa sikap kejujuran sangat penting dalam bekerja nantinya:

  1. Membantu menjaga reputasi baik

Perilaku yang jujur dalam bekerja akan membuat kita memiliki reputasi yang baik dalam tempat bekerja dengan atasan maupun dengan sesame rekan kerja.

  1. Meningkatkan kredibilitas didepan atasan dan rekan kerja

Memiliki kredibitas yang baik seperti kejujuran ini akan membuat anda mudah dipercaya oleh atasan atau rekan kerja. Meningkatnya kredibilitas anda dalam bekerja akan membuat anda yang dipintahkan untuk mengurus dan bertemu dengan klien, diberi pekerjaan yang berbeda dengan rekan kerja yang lainnya. Tentunya hal tersebut tidak akan sia-sai, itu akan meningkatkan penghasilan anda.

  1. Kejujuran meningkatkan level kesehatan anda

Ternyata dengan perilaku yang sudah terbiasa jujur dapat meningkatkan kesehatan juga. Karena dengan berperilaku jujur anda akan terus berfikiran positif, dengan anda berperilaku tidak jujur anda akan memikirkan cara untuk berbohong dan fikiran seperti itu adalah pemikiran yang negative sehingga berpengaruh terhadap kesehatan anda.

 

Berkaitan dengan pengembangan program Pendidikan kesetaraan ini, fasilitator/tutor dapat membuat pembelajaran dengan prinsip kejujuran semisal dengan memberikan tugas kepada warga belajar seperti membuat artikel, quiz dan yang lainnya namun tidak boleh plagiat terhadap karya orang lain. Fasilitator/tutor harus memiliki alat untuk memeriksa tugas mereka apakah jawaban dan karya mereka ada yang plagiat atau murni jawaban dan karya mereka sendiri. Dengan begitu, jika ada warga belajar yang melakukan plagiat akan dengan mudah diketahui. Dengan menerapkan cara belajar seperti ini maka warga belajar akan terbiasa berkarya dan menjawab secara murni dari pemikirannya sendiri.

 

Ketiga dari segi metode yang digunakan untuk pembelajaran. Berkaitan dengan pengembangan program Pendidikan kesetaraan, Pendidikan kesetaraan itu isinya orang-orang yang umurnya berbeda-beda. Jadi cara/metode yang digunakan dalam pembelajaran pun harus diperhatikan. Menurut saya metode yang perlu dikembangkan dalam Pendidikan kesetaraan adalah metode dengan selang-seling. Maksudnya disini, seluruh metode pembelajaran yang ada dapat digunakan secara selang-seling. Misal dalam satu pertemuan fasilitator/tutor dapat menggunakan banyak metode dalam belajar karena salah satu tujuannya agar pembelajaran menjadi tidak monoton dan membosankan. Contoh, tutor yang sedang mengajar dikelas pertama menggunakan metode ceramah dalam mengawali pembelajaran, setelah itu tutor/fasilitator mengarahkan warga belajar untuk memebentuk kelompok dan diberikan tugas untuk memperagakan apa yang telah diperintahkan. Namun sebelum memperagakan, warga belajar diberi waktu untuk berdiskusi terlebih dahulu untuk membahas tugasnya.

 

  1. Kesimpulan

Dari seluruh paparan yang dijelaskan dalam artikel ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk melakukan pengembangan program Pendidikan Luar Sekolah banyak yang bisa dilakukan. Dapat dikembangkan dari segi media, materi maupun metodenya. Seluruh usaha untuk mengembangkan program Pendidikan PLS ini tentunya tidak terlepas dari bantuan seluruh pengurus yang ada.

 

 

 

 

 

Referensi:

 

http://pustakamirzan.blogspot.com/2010/11/pengembangan-program-pendidikan-luar.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_luar_sekolah

https://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran

https://blog.ruangguru.com/3-alasan-pentingnya-bersikap-jujur-di-tempat-kerja

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *